Nyadran Ageng Kyai Demak Ijo dan Leluhur Banyumeneng berlangsung meriah. Tumplek blek ratusan warga hadir mengikuti acara tersebut untuk berdoa dan ngalap berkah, baik warga lokal Banyumeneng dan sekitar, maupun keluarga ahliwaris leluhur. Turut hadir Ketua DPRD DIY Nuryadi, S.Pd, Paniradya Pati Kaistimewaan DIY, Aris Eko Nugroho, Ketua DPRD Sleman Gustan Ganda, Panewu, Lurah, Pamong, RW, RT serta tamu undangan. Acara berlangsung pada hari Minggu (16\/2) pagi di kompleks Gedung Serbaguna Banyumeneng yang bersebelahan dg Makam Siti Arum Banyumeneng. Prosesi Nyadran Ageng yang dilaksanakan di bulan Ruah atau menjelang Bulan Puasa ini dimeriahkan dengan kirab budaya. Terdiri dari bregada banyu sembodo, kirab gunungan, kirab tumpeng, dan toya wening. Dilanjutkan doa tahlil, singiran, pemotongan tujuh tumpeng, rebutan gunungan, serta tabur bunga di pusara makam Kyai Demak Ijo dan leluhur BanyumenengDukuh Banyumeneng Dymas Alfandy Saputra menjelaskan, Kyai Demak Ijo merupakan tokoh sepuh di Banyuraden. Dia adalah cicit dari Pepatih Dalem Kerajaan Mataram Ki Ageng Juru Mertani patih zaman Panembahan Senopati, raja pertama Mataram Islam. \u201cNisan Kyai Demak Ijo persis dengan nisan yang ada di Pajimatan Imogiri. Menilik waktunya, peradaban di Banyumeneng ini sudah ada sejak 500 tahun silam. Kami sudah melaporkan kompleks makam Kiai Demak Ijo agar ditetapkan sebagai cagar budaya,\u201d ucapnya.

Ketua DPRD DIY, Nuryadi mengapresiasi acara tersebut. Ia berharap, tradisi budaya ini terus dilestarikan. \u201cAda tiga hal yang bisa dimaknai dalam prosesi ini. Pertama adalah rukun dan guyub masyarakat. Kedua, prosesi kirim doa sebagai pengingat akan kematian. Terakhir adalah bersih makam, sebagai simbol bersih diri memasuki Sasi Pasa.\u201d

Ditambahkan oleh Paniradya Pati Aris Eko Nugroho bahwa Nyadran Ageng Kiai Demak Ijo merupakan modal sosial & potensi yg harus dijaga \u201cTidak semua harus menggunakan dana keistimewaan.